Teknologi
TERJAWAB! 3 Alasan Mitsubishi Pajero Sport Seperti Dimiliki

TERJAWAB! 3 Alasan Mitsubishi Pajero Sport Seperti Dimiliki

JAWABAN! 3 Alasan Mitsubishi Pajero Sport Mirip Vanessa Angel Beresiko Tinggi Dipacu Cepat

mitsubishi-pajero-sport

Meski berlabel “Sport”, mobil sport Mitsubishi Pajero seperti milik Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah bukanlah spesifikasi kendaraan yang ngebut. Mengapa?

Salah satunya, mobil ngebut biasanya didesain dengan desain bodi yang rendah dan lebar untuk meminimalkan tekanan angin dari depan.

Sementara Mitsubishi Pajero Sport memiliki bodi yang tinggi, namun relatif berisiko untuk dikendarai dengan cepat karena risiko goyangan!

Coba ingat sekarang! Pernahkah Anda bertemu dengan pengemudi SUV Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner yang melaju terlalu kencang di autobahn?

Tentunya banyak pihak yang sering melihat atau bahkan mengalami kebut-kebutan dengan kedua mobil ini.

Kasus terbaru dan paling banyak diperdebatkan adalah kecelakaan Vanessa Angel. Pengemudi yang terlibat kecelakaan, Tubagus Joddy, mengaku mengendarai SUV tersebut dengan kecepatan 120 km/jam.

“Saat diinterogasi pertama, sopir mengaku kecepatannya 120 kilometer per jam,” kata ASI Laka, Subdit Gakkum, Ditlantas, Komisaris Polisi Jawa Timur, Hendry Ferdinand Kennedy, seperti dilansir Mind-People.com sebelumnya.

Perlu diketahui, apa yang dilakukan Tubagus Joddy dan segelintir pengemudi Mitsubishi Pajero dan Toyota Fortuner itu tidak benar.

Karena meski mesin kedua SUV itu besar dan menghasilkan tenaga yang cukup, ada beberapa masalah yang membuat kedua mobil ini tidak cocok untuk dikebut.

Alasan pertama kedua mobil tidak cocok untuk ngebut, dikutip dari Cartoq, Minggu 7 November 2021, karena dimensi mobil.

Baik Pajero maupun Fortuner adalah jenis SUV yang omong-omong merupakan mobil dengan bentuk bodi yang besar.

Bentuk tubuh yang tinggi meningkatkan pusat gravitasi.

Secara tidak langsung, ini membuat mobil lebih rentan terhadap ketidakstabilan daripada sedan yang dirancang untuk kecepatan lebih tinggi.

Faktor lain yang berkontribusi terhadap masalah tersebut di atas, yaitu penggunaan model sasis Ladder Frame.

Sasis berbentuk tangga pada dasarnya merupakan rangka yang dipasang terpisah pada bodi.

Alhasil, gejala body roll lebih kentara dibandingkan mobil dengan sasis monocoque.

Monocoque sendiri adalah mobil yang bodi dan sasisnya menyatu.

Hal ini membuat mobil dengan sasis jenis ini lebih mudah dikendalikan di berbagai kondisi jalan. *** (Alza Ahdira / Pikiran Rakyat)

Sumber :